
Eropa dikenal memiliki sistem pendidikan yang berkualitas, Belanda salah satunya. Negeri Kincir Angin ini sepertinya tahu betul bahwa pendidikan adalah hak setiap orang. Kaya miskin, tua muda, semua mendapat kesempatan yang sama untuk belajar. Tak heran jika mayoritas bangsanya merupakan active learner.
The Ministry of Education, Culture and Science di Belanda dengan bijak membentuk habit bangsanya. Melalui pendidikan kebudayaan yang layak sebagai agenda utama, Pemerintah Belanda ingin agar anak muda di sana senang menikmati serta turut berpartisipasi dalam melestarikan kebudayan dan seni pengetahuan.
Museum, galeri, teater, hingga perpustakan dibangun sebanyak mungkin agar masyarakat bisa menghabiskan leisure time yang berkualitas. Tiket bersubsidi, atau bahkan akses gratis untuk anak muda juga diberikan. Soal kurikulum, subjek Arts and Cultural Education juga telah diimplementasikan sejak 1999 sebagai pendidikan sekunder di Belanda.
Mengunjungi bangunan bersejarah adalah inti dari subjek tersebut. Misinya jelas, yakni merangsang ketertarikan anak muda terhadap kebudayaan dan aktivitas kultural yang tersebar di beberapa wilayah.
Hal ini berdampak pada kenyataan menarik, anak muda secara signifikan tidak hanya berperan sebagai konsumen produk budaya, tapi juga lebih jauh secara aktif memproduksi lagi kebudayaan tersebut. Misalnya saja, aksi yang terjadi di Museum Bonnefantenmuseum atau biasa disebut dengan M2LIVE.
Selama event M2LIVE berlangsung, anak muda banyak memainkan peran penting. Partisipan bisa terlibat menjadi guide yang setelah itu mendapat sertifikat penghargaan dari pemerintah dan museum. Keuntungan lainnya, mereka juga bisa berlatih untuk merasakan sendiri bagaimana praktek dunia kerja sesungguhnya.

Ilustrasi: menjajal kemampuan sebagai guide di Bonnefantenmuseum (dok. google)
Tak tanggung-tanggung, Pemerintah Belanda juga menciptakan kartu transport umum secara bebas. Maka, setiap siswa bisa memilih transport umum (kereta, bus, tram, metro) di hari kerja atau akhir pekan untuk pergi travelling. Bila transport bebas mereka tidak berlaku, mereka tetap bisa berpergian mengitari kota dengan potongan 40%. Jadi, para siswa dan pencariannya menuju masa depan yang cerah sangat dihargai di negara ini.
Setidaknya itu yang menyebabkan mobilitas di Belanda cukup tinggi. Anak muda bisa berpergian untuk rekreasi dan menjalankan berbagai aktivitas sosial, pergi ke perpustakaan, mendatangi atau tampil di acara seni.
Semua itu dilakukan karena Pemerintah Belanda bertanggung jawab dalam menciptakan bangsanya yang smart, terampil, serta kreatif. Karena itulah, anak muda di Belanda dirasa perlu menikmati seni yang berkualitas tinggi. Tak heran bila Belanda amat total dalam menyediakan kondisi yang sempurna agar tercipta suasana belajar yang mendukung pengembangan sumber dayanya. Bagaimana mungkin Belanda tidak berinvestasi sangat besar di sini?
Bisa dilihat akses di sini menjadi hal yang amat penting. Akses terhadap kebudayaan kultural sangat dipahami sebagai hak dasar bagi anak muda untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Tanpa akses terhadap kebudayaan dan partisipasi, masyarakat tidak akan merasa bertanggung jawab untuk mengembangkan kehidupan sosial dan budayanya.
Jelas, Belanda percaya bahwa seni dan kebudayaan harus dapat diakses oleh semua orang. Inilah sebabnya anak muda di Belanda sangat diperkenalkan dengan seni dan kebudayaan melalui pendidikan. Belanda juga mempromosikan seni dan kebudayaan yang bervariatif, jadi masyarakat dapat memilih mana yang menarik bagi mereka.
Sebagai penutup,
Setiap orang berhak pintar, tapi tidak semua mendapat pendidikan yang layak
Sebagian orang memperoleh pendidikan, tapi tidak semua memanfaatkannya dengan maksimal
Sebagian orang tidak maksimal, karena tidak tahu cara belajar yang menyenangkan
-Self Opinion-
Referensi:
the netherlands institute for social research (the social state of the netherlands 2011)
www.government.nl
www.youtube.com/watch?v=nrdoDaHmHYc
I don’t base all my life decisions on how much money I’m going to make. Because if I did sacrifice all my values just for an easy buck, what would that make me?
-Lily Aldrin (How I Met Your Mother)
There is only One God and His name is Death, and there is only one thing we say to Death. Not Today. (Syrio Forel, Game of Thrones)

Billy Elliot (2000) is a British drama film which raises the issue of gender (division of roles attached to the men and women are socially constructed based on the culture in the community). Overall this film talks about Billy Elliot (Jamie Bell), 12 years old boy who’s fighting for his right to love ballet as his choice. The background of the birth of the issue is actually originated from the existence of gender streotip, or a labeling that was built against a particular group that cause gender inequality between men and women.
In the film, we are told that Billy’s father (Gary Lewis) wants his son to be a boxer. Billy’s father then put his son into a boxing club. At that time, boxing has become a common thing to be learnedfor the boys. Billy doesn’t like boxing. He use his money for ballet class instead of boxing class. Billy is deemed to have destroyed socio-cultural structure of society because in general most participants of balets class are woman.
Billy doesn’t follow the structures which formed by the majority, so that he must accept the risk of being marginalized. In that film which took setting in 1984, ballet identified with the activities of women, and men who dance ballet at that time still a taboo thing. The story of Billy who’s still very young can be said as a complicated one. He must struggle with his father’s anger and negative view of the surrounding environment. Not to mention, Billy grew up without a mother. Living with a drunken father, a brother who was a protester, and a senile grandmother, making Billy must learn to control his own emotions.
This film itself is directed by Stephen Daldry. The film also contains a good moral message that parents shouldn’t push their children for what they don’t like. Every child is born with their interests and talents that are very nice to be developed. When people watch Billy character in this film, they might suddenly re-imagine their childhood which is full of spirit. This film can make people realize that ballet is not only true for women, but also for men.
Rini Ayuningtias
Filed under review

The street vendors which commonly found on economic class train carriages are one of important parts for Jakarta’s economic sector. The amount of them increased after the economic crisis in the late 1990s. Its condition forced them who unemployed to create their own jobs. Although their activities give contribution to the economic sector, their existence there is considered as violation of rules.
The “market” itself arises because there’s an opportunity that’s promising enough for the hawkers. Lecturer in Faculty of Economy University of Indonesia, Beta Yulianita, conveys that it can push traders to take their chance. “They are the ones who create jobs for themselves. It’s an informal business sector, so they come to the consumers target.” said Beta. Therefore, they keep trying to steal the attention of consumers on the train with their own strategies.Consumers tend not buying products that are less urgent, that’s why the hawkers have never tired for influencing their consumers. Ariyandi Deni (20) for example, a folding chair seller claimed that he has special tactics to attract consumer interest until they buy his stuff.
Besides Deni, there’s also Yuliana (32), mother of one child who sells household necessities. “I prefer to sell people daily needs such as cooking tools because it’s easy to be sold. If the authorities (police) come to clean the train, I keep selling them to the village, from door to door.” said Juliana. According to Juliana, this market may helps the passengers to fulfill their daily needs accidentally. As experienced by Farida Aziz (56), a housewife who admitted often inadvertently shop on the train, “I often buy things there because I can get the cheaper one. I don’t need to pay the tax.” said Farida who lives at Pasar Minggu in South Jakarta.
Although this “market” is quite good to improve the informal business sector, on the other hand it’s a form of rule violations. It must be disciplined, according to Beta Yulianita, socialization to the peddlers should be held. “It takes assertiveness law for those who break the rules here, but this market also shouldn’t be eliminated just like that. Probably the local government have to find the alternatives, may be provided a strategic place for the hawkers to be able to continue their activities.” said Beta. That way, the hawkers won’t lose their customers and still can make a living.
Rini Ayuningtias
Filed under news feature
Anakronisme Jadi Penyakit Anak Zaman Kini
Tergerus zaman, agaknya istilah tersebut cukup menggambarkan cara pandang generasi muda di negeri ini. Anakronisme, atau ketidakcocokan sesuatu dengan zaman tertentu, layaknya dinobatkan kepada anak zaman kini yang kurang begitu peka terhadap kenangan masa lampau. Anak muda dan sejarah ibarat bumi dan langit, ada gap, tak ada rasa ingin tahu terhadap cerita-cerita lama di sekililing mereka. Kenapa anak muda tidak begitu tertarik atau bahkan terkesan cuek? Apa memang ada sistem yang salah sehingga menghasilkan produk budaya yang demikian? Hal ini yang kemudian menyebabkan kecemasan masyarakat. Akan seperti apa nasib generasi ini di masa depan? Masyarakat bisa jadi sudah dapat mengintip sedikit demi sedikit potongan dari puzzle ini. Mungkin, anak muda zaman sekarang memang sudah larut dalam dunia modern sehingga agak kikuk jika harus berkenalan dengan nilai-nilai lama. Mereka menjadi gagal berurusan dengan coretan kisah masa lampau, atau yang lebih buruk, cenderung menyerah dan mengaku tak mampu lagi memahami sejarah. Ini jelas bertolak belakang dengan pandangan para cendikiawan yang mengatakan bahwa dari sejarah, seseorang dapat memahami arti sebuah proses dan perubahan.
Dunia Pendidikan & Peran Guru sebagai Fasilitator.

“I don’t love studying. I hate studying. I like learning. Learning is beautiful..” (Natalie Portman, Aktris Hollywood)
Konsep studying berbeda dengan learning, studying identik dengan kegiatan belajar mengajar dalam kelas, lebih me-label-kan seseorang sebagai peserta didik yang harus memenuhi tuntutan sistem, sedangkan learning merupakan proses mencari dan memperoleh pemahaman baru melalui cara apapun. Learning tidak melulu belajar melalui buku-buku tebal yang acapkali mengundang rasa jenuh, namun bisa melalui media lain seperti film, lagu, games, apapun itu yang dapat dieksplor. Sistem pendidikan di Indonesia selama ini jika diamati secara dalam, lebih mengandalkan konsep studying sehingga rata-rata pelajar justru merasa tertekan, dan tidak mendapat perasaan nyaman sama sekali dalam belajar. Orang membaca bukan lagi dengan keinginan memahami persoalan atau alur cerita yang disajikan, malah menghapal substansi yang hanya menciptakan short term memory. Setiap orang punya gaya belajar masing-masing, dengan learning seseorang bisa memaksimalkan diri dalam memperkaya kualitas pikiran melalui pengalaman. Konsep learning menuntun seseorang untuk menyadari kenapa harus belajar ini dan itu, apa sebab apa akibat sehingga tidak hanya melek “judul” alias cuma tahu nama atau tanggal peristiwa.

Dalam dunia pendidikan, guru sebagai fasilitator atau teman “seperjalanan” dalam mencapai tujuan harus mau mendorong (atau lebih tepatnya membantu) murid untuk menyukai sejarah, bukan dengan mendikte murid dengan segudang materi yang membuat ngantuk. Curi saja cara Bu Muslimah ketika mengajar dalam film Laskar Pelangi. Beliau bisa jadi mampu membangkitkan emosi pikiran murid-muridnya sehingga mereka tergerak untuk berpetualang lebih jauh, demi memenuhi hasrat hati dan pikiran akan ilmu.
bersambung…
Rini Ayuningtias
Filed under Wacana Sosial